Ini Dia Niat Shalat Idul Adha - Harus Hafal!

Niat adalah sesuatu yang wajib dalam ibadah.Seseorang yang akan melakukan ibadah tidak akan sah ibadahnya jika tidak di awali dengan niat "Karena Allah Ta'ala". Niat tertanam didalam hati yang menunjukan adanya kesengajaan untuk melakukan ibadah tertentu. mumpung besok Hari Raya idul Adha kita wajib hafal niatnya, Ini Dia Niat Shalat Idul Adha - Harus Anda Hafal!.

Banyak Ahli Fiqih berpandangan, Fungsi niat setidaknya ada dua hal. Yang pertama, untuk membedakan aktivitas beribadah dengan aktivitas biasa lainnya. Contohnya, Ketika seseorang hendak berkeramas seperti kebiasaannya. Namun ketika dia tidak berniat untuk mandi wajib, maka kegiatan keramas tersebut tidak bisa menghilangkan hadats besar.

Kedua, Membedakan fungsinya. Misalnya, membedakan antara Shalat dhuha, shalat Idul Adha, Idul Fitri, dan Shalat Idul Adha DLL.

Niat bisa di sebut juga getaran batin, niat tidak diwajibkan dilafalkan. Cukup untuk apa yang akan dilakukan “dibunyikan” dalam hati. Tapi, Menghafalkan niat justru akan membantu Anda Agar lebih konsentrasi, Terutama untuk orang yang kena penyakit Was-Was (Ragu-ragu).

Ini Dia Niat Shalat Idul Adha - Kamu Harus Hafal!


Lafal dalam bahasa Arab adalah sebagai berikut;


أُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) للهِ تَعَــــــــالَى


Ushallî rak‘ataini sunnata-li ‘îdil adl-hâ (ma’mûman/imâman) lillâhi ta‘âlâ

Artinya: “Aku niat melaksanakan shalat sunnah Idul Adha (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta‘âlâ.”

Atau bisa yang lebih lengkap:


أُصَلِّيْ سُنَّةً  لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا)  للهِ تَعَالَى


Ushallî sunnata-li ‘îdil adl-hâ rak‘ataini mustaqbilal qiblati (ma’mûman/imâman) lillâhi ta‘âlâ

Artinya: “Aku niat melaksanakan shalat sunnah Idul Adha dua rakaat, menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta‘ala.”

Niat dibaca menjelang Takbiratul Ihram. Anda juga bisa menggunakan bahasa lokal setempat. Sebagai catatan, kedudukan lafal niat hanyalah sekunder alias membantu orang yang hendak melaksanakan shalat agar lebih mantap dan fokus pada niatnya. Sementara yang primer tetaplah getaran batin tentang shalat Idul Adha itu sendiri. Imam Ramli mengatakan:

وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ


“Disunnahkan melafalkan niat menjelang takbir (shalat) agar lisan dapat membantu (kekhusyukan) hati, agar terhindar dari gangguan hati dank arena menghindar dari perbedaan pendapat yang mewajibkan melafalkan niat”. (Nihayatul Muhtaj, juz I,: 437)

Menurut Madzhab Syafi‘î, niat berarti sengaja melakukan sesuatu yang dilaksanakan berbarengan dengan aktivitas pertama saat shalat. Artinya, dalam konteks shalat Idul Adha, jika melafalkan niat dilakukan sebelum takbiratul ihram maka niatnya itu sendiri dilaksanakan dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Wallahu a’lam.

Disqus Comments